Teks Feature: Teman Bisa Jadi Pisau Bermata Dua
Teman Bisa Jadi Pisau Bermata Dua
Oleh: Aditiya Alfajar - 10080021080
Teman bisa menjadi pisau bermata dua dalam kehidupan
sehari-hari. Di satu sisi, memiliki teman yang baik dapat memberikan
kebahagiaan, dukungan, dan bahkan membantu kita mencapai tujuan hidup kita.
Namun, di sisi lain, terkadang teman juga dapat menjadi sumber kecemasan,
kekhawatiran, atau bahkan membawa kita ke arah yang salah.
“ saat ini saya bisa dibilang hanya memiliki sedikit
teman yang benar-benar dekat dikampus, kalo untuk menambah relasi atau hanya
sekedar kenal saja itu banyak. Tapi untuk sering bermain, ngobrol atau curhat
bisa dibilang sedikit yaa”. Itu yang dikatakan oleh Fakhri mahasiswa
Universitas Pasundan jurusan kesejahteraan sosial angkatan 21, yang merupakan
teman satu SMA saya.
Dia juga memberikan alasannya kenapa jarang sekali
nongkrong dengan teman-teman kampusnya saat ini, padahal saat awal-awal masuk
perkuliahan dia bisa dibilang sering ngongkrong dengan teman-temannya, “mungkin
karna awal-awal masuk dunia perkuliahan rasa ingin membangun relasi dan
mendapatkan teman baru pasti ada ya, tapi semakin kesini saya melihat bagaimana
sifat asli mereka muncul dan saya kurang suka sebenernya, jadi aga menjaga
jarak aja sih, main masih mungkin hanya di lingkungan kampus saja dan saat ada
kegiatan organisasi kampus”.
Sementara menurut Syahrul yang merupakan teman saya
sejak SMA dan sekarang satu jurusan dengan saya, yaitu jurusan Ilmu Komunikasi di
Universitas Islam Bandung yang saya temui di sekitaran kampus Unisba. “ Saya sendiri berteman dengan siapa saja,
mungkin karena saya orangnya gampang berbaur atau beradaptasi jadi saya
nyaman-nyaman saja dengan teman kampus, apalagi saya juga ikut salah satu
organisasi kesenian di Unisba yang anggotanya kebanyakan kaka tingkat saya,
mungkin emang bener ya kadang temen juga ada yang toxic, tapi itu balik lagi ke
diri kita bagaimana kita menanggapi sikap mereka, ada kalanya kita juga bisa
menolak ajakan meraka jika kita sendiri merasa tidak nyaman.”
“ Tidak ada salahnya ko sesekali kita ikut ajakan
meraka, dengan begitu kita tau bagaimana sikap asli meraka, dengan ikut mereka
juga kita bisa belajar banyak hal-hal baru dan juga pengalaman baru. Ambil yang
postifnya dan buang yang negatifnya.” Syahrul menambahkan.
Saya juga mewawancarai salah satu teman SMA saya
juga yang berkuliah di luar kota, yang tidak mau di sebutkan namanya, kebetulan
saat ini dia sedang libur kuliah jadi saya bisa mengobrol langsung saat kita
sedang nongkrong bareng, berikut tanggapan dia mengenai “Teman Bisa Jadi Pisau
Bermata Dua”.
“ Saya setuju dengan pernyataan Teman Bisa Jadi Pisau Bermata Dua apalagi saya berkuliah diluar
kota yang mempunyai budaya dan bahasa yang berbeda tentunya, ditambah
teman-teman sekampus saya juga yang berasal dari berbagai daerah dan kebanyakan
ngekos, tapi untungnya saya satu kos bersama tiga teman saya yang kebetulan
satu daerah. Kehidupan anak kos yang bebas tanpa pengawasan kedua orang tua
sudah jelas membuat meraka hidup seperti tidak ada aturan dan seenaknya,
maksudnya seenaknya seperti ngongkrong atau main sampai malem bahkan pagi. Tapi
tujuan kita berkuliah diluar kota bukan hanya ingin bebas dari orang tua, kita
juga belajar bagaimana hidup mandiri, oleh karena itu sudah sangat wajar
menurut saya banyak hal negatif maupun postif yang kita dapatkan bersama teman
perkuliahan.”
“ Walaupun dengan begitu balik lagi ke diri kita masing-masing, bagaimana kita bisa membatasi diri untuk tidak terjerumus ke hal-hal yang menyesatkan atau hal yang bisa membuat kita menyesal di kemudian hari, saya juga sering mengingatkan kepada teman-teman satu kos begitupun sebaliknya untuk tidak terjerumus ke hal-hal seperti itu”.
REFERENSI:
https://www.academicindonesia.com/contoh-feature/
https://www.pojokata.com/2020/01/contoh-berita-feature-pengalaman.html
https://contohsimpel.blogspot.com/2014/02/contoh-feature-human-interest
Komentar
Posting Komentar